Selasa, 25 Februari 2020

SEJARAH ARAB DI INDONESIA

SEJARAH ARAB DI INDONESIA
Oleh: Bayu Pamungkas
Mudabbir Ma’had al-Jami’ah Sultan Maulana Hasanuddin Bante
n

     Islam sangat identik dengan Arab, karena kemunculan agama ini dimulai ketika lahirnya Muhammad Saw ditanah Arab. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, lalu bagaimana Islam bisa masuk dibumi Indonesia? Dapat dikatakan bahwa para navigator dan pedagang Arab lah yang telah memperkenalkan Islam di Indonesia. Pertama, di negeri Aceh, kemudian Palembang dan pada abad XVIII di Pulau Jawa. “Namun di mana pun tidak ditemukan peninggalan dari navigator dan pedagang itu, seperti pendirian koloni-koloni Arab seperti yang kita lihat kini.”

   ”Hasil penelitian saya mengenai hal itu menunjukan bahwa orang Arab Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad XVIII, dan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal.” Perhentian orang-orang Arab pertama adalah Aceh. Dari Aceh mereka lebih memilih melanjutkan perjalanannya ke Palembang dan setelah itu Pontianak. Kebanyakan dari mereka pergi ke Nusantara ingin berdagang.

   Menurut Pijanappel asal mula Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia adalah “orang-orang Arab bermazhab Syafi’i yang berimigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.” Teori ini kemudian dikembangkan Snouck Hurgronje yang berhujah, “begitu Islam berpijak kukuh di beberapa kota pelabuhan anak Benua India, banyak di antara mereka tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara, datang ke Dunia Melayu-Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama.” Kebanyakan dari mereka adalah keturunan Nabi Muhammad Saw karena menggunakan gelar sayyid atau syarif.

     Di kalangan kaum muslim, Nabi Muhammad Saw dikenal luas sebagai seorang pendidik dan teladan yang sangat baik. Dan tidak seorang pun dalam sejarah manusia yang lebih banyak diikuti daripada Nabi Muhammad Saw. Beliau membawa Alquran dan Hadis sebagai pegangan hidup kaum muslim. Menurut Abdurrahman Mas’ud, “gerakan sosial Islam yang disebarkan Nabi Muhammad Saw memang bukan sekedar pendidikan normatif, melainkan gerakan sosial keagamaan yang membawa pada kebahagiaan umat manusia.”

     Ketika ilmu sihir digandrungi masyarakat pada zaman Nabi Musa, maka Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Musa yang sejenis dengannya, yaitu berupa kemampuan untuk membelah lautan dan merubah tongkatnya menjadi ular. Ketika ilmu kedokteran dijadikan panutan pada masa Nabi Isa, maka Allah memberikan mukjizat yang sejenis dengannya, yaitu berupa kemampuan untuk menghidupkan kembali orang mati dan menyembuhkan orang buta. Begitu pula ketika ilmu keindahan bahasa, syair, sajak, dan prosa merebak pada masa Nabi Muhammad Saw, maka Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengalahkan itu semua, yaitu berupa kitab suci Alquran..

Referensi :
-L.W.C. Van Den Berg, Orang Arab di Nusantara, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010), hal. 95.
-Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah & Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, (Depok: Prenadamedia Group, 2018), hal. 3.
-Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain Ke Nusantara Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 43.
- Mahfud Hidayat dan Abdul Mu’iz, Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015), hal. 239.

Rabu, 19 Februari 2020

MANAQIB SINGKAT IMAM AHLUSSUNNAH WALJAMAAH

Imam Ahlussunnah Waljamaah Abad 21 ABUYA AS-SAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI


     Abuya As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alawi Al-Maliki Al-Hasani lahir di kota Makkah tahun 1365 H / 1945 M. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah Makkah, dimana ayah beliau As-Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di Halaqoh Masjidil Haram Makkah yang tempatnya sangat masyhur dekat Babussalam. Setelah As-Sayyid Alawi Al-Maliki wafat, putera beliau (Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani) tampil sebagai penerus. Disamping mengajar di Masjidil Haram, beliau juga diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah mata kuliah Ilmu Hadits dan Ushuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua universitas tersebut, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka Majlis Ta’lim di kediaman beliau kawasan Utaibiyyah Makkah. Tak berapa lama, tempat kediaman beliau pindah ke kawasan Rushoifah Makkah.

     Abuya As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alawi Al-Maliki Al-Hasani lebih suka dipanggil oleh semua santrinya dengan sebutan ABUYA daripada dengan sebutan yang lain. Penggilan Abuya ini bertujuan agar hubungan antara guru dan murid tidak sekedar hubungan dhohir tapi juga hubungan batin, seperti hubungan orang tua dengan anaknya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab المنهج السوي Karangan Alhabib Zen bin Ibrohim bin Smith:

آبَاؤُكَ ثَلاَثَةٌ: أَبُوْكَ الَّذِى وَلَدَكَ, وَالَّذِى زَوَّجَكَ ابْنَتَهُ, وَالَّذِى عَلَّمَكَ وَهُوَ أَفْضَلُهُمْ.

"Bapakmu ada tiga. Pertama: Bapak yang dengannya kamu lahir ke dunia. Kedua: Bapak yang telah menikahkan anaknya dengan kamu. Ketiga: Bapak yang telah mendidik dan memberimu ilmu, dan dia yang paling utama diantara yang lain"

Nasab Abuya

Nasab Abuya bersambung hingga kepada Baginda Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم dari jalur Sayyidina Hasan bin Ali رضيَ اللَّه عنهما . Oleh karena itu, dalam penyebutan nama beliau disematkan nisbat الحسني. Mereka adalah anak cucu Baginda Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم wajib untuk kita muliakan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Maulid Ad-Daiba'iy,

أَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَفَى الطُّهُرِ *  هُمْ أَمَانُ اْلأَرْضِ فَالذَّكِرِ

"Mereka para Ahlul Bait Nabi adalah manusia suci. Dan ingatlah bahwa mereka adalah para penjaga bumi."

Madzhab Abuya

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani bermadzhab Imam Malik. Namun kendati demikian, Abuya tidak menyuruh para santrinya untuk mengikutinya Mazhab Imam Malik, kecuali hanya beberapa orang saja, bahkan Abuya sengaja memanggil beberapa Ulama' yang bermadzab Imam Syafi'i untuk mengajari Fikih Madzhab Imam Syafi'i.

Manhaj Abuya

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani sangat tidak suka dengan orang yang fanatik terhadap salah satu aliran atau kelompok. Sebagaimana Abuya juga tidak suka dengan kekerasan dan orang yang keras. Sebagaimana dawuh beliau,

أَكْرَهُ التَّعَصُّبَ وَالْمُتَعَصِّبِيْنَ, وَالتَّشَدُّدَ وَالْمُتَشَدِّدِيْن. 

Metode Tarbiyah Abuya

Metode Tarbiyah Abuya As-Sayyid Muhammad bin Assayyid Alawi Al-Maliki Al-Hasani di dalam mendidik santri-santrinya tercermin dalam beberapa Kalam Hikmah beliau, antara lain :

Abuya lebih mengutamakan Akhlak daripada Ilmu.

أًنَا أُعَلِّمُ الأَخْلاَقَ وَ الْمُرُوْؤَةَ قَبْلَ الْعِلْمِ وَ الْكِتَابِ
Aku (mendahulukan) mengajarkan akhlak dan Muru'ah, sebelum mengajarkan ilmu dan kitab.

Abuya lebih mengutamakan Khidmah  daripada Ilmu.

الطَّالِبُ الْخُدُوْمُ اَحْسَنُ عِنْدِي مِنَ الطَّالِبِ الْمُجْتَهِدِ

Santri pengkhidmah lebih baik bagiku daripada santri yang giat (belajar) 

Karya Abuya

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani termasuk Ulama' produktif yang banyak menghasilkan karya berupa kitab-kitab pedoman Ahlussunnah Waljamaah. Karya-karya Abuya lebih dari 100 kitab, baik yang sudah dicetak ataupun yang masih berupa \_Makhtuthat\_ (manuskrip). Diantara karya Abuya yang sangat masyhur adalah kitab yang berjudul,

 مَفَاهِيْمُ يَجِبُ أَنْ تُصَحَّحْ

"Faham-Faham Yang Harus Diluruskan"

Amanah Abuya

Pada bulan Syawal 1423 H. atau bertepatan dengan Desember 2002 M., Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani berkunjung ke Malaysia. Dalam kunjungan tersebut, Abuya memberikan amanah kepada murid paling senior, yaitu KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin agar membuat wadah bagi para alumni. Amanah ini merupakan usulan pendapat dari Abuya As-Sayyid Ahmad putera beliau.
Alhamdulillah, pada hari Rabu tanggal 2 Muharrom 1424 H. atau bertepatan dengan 5 Maret 2003 M. sebanyak 25 murid beliau berkumpul di kediaman KH. Muhyiddin Nor Pondok Pesantren Darussalam Tambak Madu Surabaya. Semua santri Abuya yang hadir sepakat untuk mewujudkan amanah beliau dalam berdakwah secara berjamaah. Wadah tersebut kemudian dengan diberi nama Hai’ah ASH-SHOFWAH, Dan pada acara tahunan Musyawarah Nasional (Mukernas) ke VIII Tahun 2014, diputuskan agar nama organisasi ini ditambah menjadi Hai'ah ASH-SHOFWAH AL-MALIKIYYAH. Hal ini untuk menghindari kerancuan dengan sebuah organisasi yang bernama Yayasan Ash Shofwah  dan berpusat di Jakarta.
Saat ini kantor pusat Hai'ah ASH-SHOFWAH AL-MALIKIYYAH berada di Jln. Gayungsari Surabaya, sebelah timur Masjid Al-Akbar Surabaya. Organisasi para Alumni Abuya Al Maliki ini sudah memiliki 21 kantor cabang (Niqobah) di seluruh Indonesia dengan jumlah anggota yang sudah terdata kurang lebih 900 para habaib dan kiai. 

Karomah Abuya

Diantara sekian banyak karomah Abuya As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alawi Al-Maliki Al-Hasani yang tidak bisa dipungkiri siapapun, adalah doa dan permohonan Abuya kepada Allah,

أَتَمَنَّى مِنَ اللهِ اَنْ يَقْبِضَ رُوْحِيْ بَيْنَ طُلاَّبِيْ وَ كُتُبِيْ وَ اَنَا صَائِمٌ

"Saya memohon kepada Allah agar ruhku dicabut ketika saya berada di tengah santri-santri dan kitab-kitabku, dan saya dalam keadaan berpuasa"

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani wafat hari jumat tanggal 15 Romadhon 1425 H. atau 30 Oktober 2004 M. Beliau wafat di kamar beliau yang penuh dengan kitab-kitab dan ditunggui oleh para santri beliau.

Semoga kita sebagai santri dan pecinta Abuya Al-Maliki selalu mendapat barokah dan Madad Abuya Al-Maliki. Alfatihah ..

Oleh:
Bayu Pamungkas
Mudabbir Ma'had al-Jami'ah UIN SMH Banten.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم