DARI ABI AKU MENGENAL DAKWAH
Oleh: Averoes
Aku terduduk sambil melihat pandangan bahagia teman–temanku bersama kedua orangtuanya, saat pembagian rapot, aku di sini sendiri tanpa ada kedua orangtua,entahlah aku tadi sudah menghubungi abi dan umi untuk segera datang ke sekolah. Pembagian juara kelaspun diumumkan, namaku disebutkan. Hanya sebuah senyum tipis yang aku berikan,aku pikir dengan aku menjadi juara kelas, abi dan umi akan datang tepat waktu dan akan melihatku memegang piala, tapi tidak, fikiran itu jauh dari ekspektasi, abi dan umi tidak datang tepat waktu,walaupun pada akhirnya mereka datang hanya menjemputku.
"Sarah, kenapa kamu diam saja, apa hadiah yang kau inginkan, sebagai hadiah juara mu". Umi bertanya padaku, "Tidak ada" jawab ku sekenanya, umi dan abi hanya tersenyum. "Umi dan abi tahu apa yang kamu pikirkan sarah, kelak kamu akan tahu mengapa alasan kami tidak pernah bisa datang tepat waktu untukmu, maafkan umi dan abi sarah”. Apa alasan yang membuat umi abi, lebih mementingkan urusan nya dibanding mendatangi acara aku, sebagai anaknya. Entahlah pikiran rumit ini membuat ku ingin tidur.
Lima tahun yang lalu cerita itu berlalu dan kini kisah itu harusku alami di saat ini, saat di mana esok aku bertanding dalam lomba MHQ tingkat Nasional. Aku terdiam menikmati bintang malam hari, sunyi sudah tak asing dalam hidupku, abi dan umi yang sejak dahulu di pagi hari makan bersama dan setelah itu berpamitan untuk menyelesaiakan suatu amanah yang mereka emban. Aku berharap esok, mereka akan melihat aku lomba, tetapi, aku segera menggelengkan kepalaku tanda mustahil abi dan umi datang.sampai saat ini aku belum tahu kesibukan apa yang umi dan abi lakukan, hanya sekedar tahu bahwa umi dan abi, sering dipanggil dalam beberapa acara pengajian sebagai pemateri, aku sudah pernah menanyakan ini sebelumnya, tapi umi dan abi belum menjelaskan secara detail apa yang mereka lakukan, apa tujuan yang mereka lakukan. Ketukan pintu menyadarakan aku dari lamuanan, umi masuk ke kamarku "Sarah belum tidur nak", aku pun menggeleng, "Ada yang kamu fikirkan nak?”, "Umi aku besok lomba MHQ tingkat nasional, umi sama abi bisa liat sarah nggak?, tapi kalo gak bisa juga gak papa” umi terlihat berfikir, setelah itu tersenyum "InsyaAllah umi datang tapi kalau umi sama abi datang nya telat Sarah gak akan marah kan?" aku mengangguk tanda setuju "yasudah Sarah tidur ya" "iya umi", ucapkan. Umi pun mencium keningku, beranjak dari tempat tidurku “Umi sebentar”, "ada apalagi Sarah sayang?”, "umi, Sarah masih penasaran apa sih yang umi sama abi lakuin sampe gak bisa datang tepat waktu di acara Sarah?’’ umi tersenyum, tanpa ada rasa tersinggung. "Sarah mau tau apa yang umi dan abi lakukan?’’ aku mengangguk tanda mengiyakan "Besok setelah Sarah lomba, Sarah ikut umi abi ya, biar Sarah bisa tau apa yang umi abi lakuin, biar kamu gak marah lagi kalo umi abi jarang datang di acara Sarah” aku langsung memeluk umi "Maafin Sarah ya umi", tidak apa nak, tapi mungkin kegiatannya akan sedikit melelahkan Sarah mau tetap ikut?" "Sarah tetap ikut umi”, "yasudah sekarang Sarah tidur ya sudah malam". Besok adalah hari yang aku tunggu-tunggu ,hari dimana yang akan menjawab rasa penasaranku sejak kecil.
Esoknya aku sarapan bersama umi abi "Sarah sudah siap untuk hari ini?” Tanya abi "InsyaAllah Sarah siap, abi sama umi dateng ya liat sarah ngaji", "InsyaAllah" jawab umi abi, "hari ini Sarah jadi kan bi ikut kegiatan abi sama umi?"' "emang kamu kuat” tanya abi, "kuat tau biii’’. "Yasudah, abi sama umi berangkat duluan ya Sarah, nanti setelah acara umi abi selesai abi sama umi ke acara kamu” "okee umi abi”.
Aku pun bergegas masuk ruangan lomba, lomba sebentar lagi dimulai tapi abi dan umi belum juga datang, sudah biasa, memang umi dan abi datang akhiran, tapi setidaknya, untuk hari ini aku berharap mereka datang awalan, nama ku pun disebut, aku lupakan sejenak masalah abi dan umi, aku harus tetap fokus dengan lomba ku, aku maju dengan membaca bismillah, pertanyaan demi pertanyaan aku lewati dengan lancar, Alhamdulillah, berkat bimbingan abi setiap pulang dari kerjanya, yang menyempatkan, mendengar murojaahku, aku bisa menjawabnya, tetapi sampai acara ini selesai abi dan umi belum datang juga, entah kemana mereka, pengunguman juara pun diumumkan, aku terpilih menjadi juara satu, tapi sat ini tak ada senyum ketulusan kau bisa tampilkan, aku kecewa dengan abi dan umi, kemana mereka disaat semua orang bertepuk tangan atas kejuaraanku, aku berlari ke luar gedung acara, menumpahkan segala rasa kecewa ku, hari ini aku menagis, menangis karena sudah sekian kali abi dan umi tidak pernah melihat apa yang aku raih, biarlah hari ini saja aku menagis, seterusnya aku harus sudah terbiasa tanpa ada kehadiran umi dan abi, tepukan di pundakku menghentikan tangisku. "Tante Aisy, tante ko ada di sini?” Sarah kenapa ko nangis?" aku mengggelang “Yasudah kita pulang yuk, tante di suruh umi sama abi jemput kamu, umi dan abi titip maaf buat Sarah, gak bisa dateng ke acara sarah". Udah biasa juga, umi gak dateng, umi sama abi kan lebih milih kesibukannya daripada Sarah "Bukan begitu sayang", "kalau bukan itu apa tante, Sarah hari ini juara tapi umi sama abi gak liat sarah maju, sarah kecewa sama umi abi” tante Aisy hanya tersenyum, "yuk kita pulang, simpan dulu kecewanya ya, aku memilih diam di mobil tante Aisy, aku terlalu cape, sampai aku tak tahu, ini bukan jalan pulang menuju rumahku. ”Sudah sampai” kata tante Aisy menyadarkan ku dari lamunan tak berarah. Tapi aku bingung, aku asing dengan tempat ini, ini bukan ruamah ku, "tante ko gak pulang ke rumah?" "kita mampir dulu ya di sini, ada urusan tante di sini, yuk ikut turun", aku mengangguk.
Aku disugguhkan pemandangan yang memeperihatinkan dimana, rumah- rumah disini terlihat kumuh tak terurus, bahkan anak anak disini seperti kekurangan gizi, tapi dengan keadaan seperti ini aku masih melihat mereka mengaji dan tepat waktu dalam menunaikan kewajibannya, rata-rata, di desa ini perempuannya memakai hijab, senyum tipisku berikan kepada mereka, mereka ramah dan aku suka disini, tentram, damai, mauapun bangunan disini tidak seindah kota tempat tinggalku, tanpa sadar aku kehilangan jejak tante Aisy, aku kalang kabut, aku takut nyasar, aku takut tidak bisa pulang ke rumah, aku pun memberanikan diri bertanya kepada warga "Assalamu’alaikum pak maaf, apa bapa tadi melihat wanita berwajah putih, berkerudung coklat senada dengan bajunya?” "Mbak Aisy ya neng namanya?” wah keren sekali tante Aisy bisa seterkenal ini di desa terpencil ini, ”Iya pak namanya tante Aisy”, "Mba Aisy biasanya kalo siang begini ada di kantor balai desa neng” aku pun dibuat bingung, apakah tante Aisy sudah sering kesini, sampai bapak ini sudah tau kebiasaan tante Aisy, bapak itu menyadari kebingunganku ”mbak Aisy itu setiap hari neng kesini, mengajarkan kami membaca Alqur’an, mengajarkan ilmu –ilmu Islam yang kami tidak tahu, bersama sepasang suami istri yang dengan sabar membantu kami memajukan desa kami dari ketertinggalan ekonomi, mensejahterakan masyarakat disini neng, saya sampai tak habis berfikir masih ada sosok yang ingin membantu kami” bapak itu tersenyum tulus. Aku pun tak habis fikir pada zaman milenial ini masih ada saja orang yang memiliki jiwa sosial tinggi, ”Baik pak terimakasih, saya akan ke balai desa menjemput tante saya" "Iya neng hati hati, sampaikan salam dari bapak untuk mba Aisy yang sudah banyak membantu warga desa ini", "baik pak nanti Sarah sampaikan" aku pun bergegas menuju balai desa bermodal informasi dari bapanya, di jalan aku masih memikirkan kisah pejuanagan tante bersama rekan nya, yang memberikan sebagian waktunya untuk desa ini, aku salut terhadap tante Aisy mungkin suatu saat nanti aku bisa mengikuti jejak tante Aisy. Aku pun masuk balai desa, tapi begitu kaget aku meihat tante Aisy dan umi ada disana, sedang menenangkan seorang anak kecil yang sedang menagis hebat, aku pun langsung masuk kedalam, semua orang tersenyum sendu saat aku masuk, entah apa yang terjadi. "Sarah kemari nak" ajak umi "Maaf ya nak abi sama umi tadi tidak bisa mengahadiri acara mu, abi sedang mengantarkan warga desa yang sedang sakit parah dan warga itu tidak bisa diselamatkan, maka dari itu abi dan umi tidak bisa datang" aku mengangguk, merasa bersalah atas apa yang tadi aku lakukan, "umi sama abi gak salah, Sarah yang salah, yang gak bisa ngertiin abi sama umi maafin Sarah". Abi di mana umi?” "abi lagi di perjalanan mengantarkan jenazah kesini nak”, pandanganku seketika beralih kepada anak gadis cantik, berkerudung merah, yang sedang terisak di dekapan tante Aisy, umi mengerti kebingunganku "Dia anak dari warga yang wafat Sarah, kini ia harus menjadi seorang yatim piatu, ayah dan ibunya sudah meninggal nak” aku langsung memeluk umi tanda bersyukur aku masih bisa hidup bersama umi dan abi, umi mengusap bahuku, meredakan tangisku, tangisku berhenti saat suara abi terdengar "Assalamu`alaikum" "Waaalaikumsalam, abiii". Aku berlari memeluk sosok tangguh dalam hidupku, hari ini aku menyaksikan raut sedih mendalam dalam wajah abi, cukup hari ini aku melihat abi sedih aku akan membahagikan nya, "Sarah, maaf karna abi tidak bisa datang ke acaramu, maaf abi gak bisa liat sarah, saat sarah jadi juara, maaf nak, tapi yakinlah abi bangga kepada mu sarah, abi sayang Sarah". Tangisanku pun menjadi, "bukan salah abi, salah Sarah yang gak ngerti abi ngapain,” abi menggeleng "Maaf abi baru ada waktu nunjukin kegiatan abi selama ini, dan maaf abi menyuruh umi untuk menemani abi, bukan menemani kamu di rumah dengan segala kegiatan kamu, maaf kan abi ya nak, jika mungkin abi sanggup sendiri mungkin abi akan mengerjakan sendiri tanpa umimu, tapi pejalanan dakwah ini teralu berat nak" aku bangga, aku bangga terhadap sesosok laki-laki yang aku peluk saat ini, sesosok laki-laki yang lebih memprioritaskan umatnya, tanpa meninggalkan kasih sayang, ilmu agama dan material kepada keluarganya aku bangga dengan abi dan umi. Cukup sampai di sini acara aku menangis karena abi harus menguburkan jenazah warga desa saat ini, hari ini hari di mana aku mengenal apa itu dakwah, mengenal arti sebuah perjalanan dakwah yang berat. Aku berjanji pada diriku, aku akan menjadi seperti umi dan abi, yang menyebarkan kebaikan di mana pun.
Menulis kisah lama memang menyenangkan, terlalu banyak pelajaran dari kisah lama, kini aku Sarah Salsabila telah membuktikan janji ku saat kecil, meneruskan perjalanan abi dan umi dalam lingkup dakwah, bertahun–tahun yang lalu abi telah mendidikku dengan bekal agama yang kuat, aku yang dari dahulu dimasukan liqo, rumah tahfidz, dan pada masa itu aku merasa bosan dengan apa yang aku lakuakan, tapi hari ini aku mengerti bahwa usaha abi dari dahulu adalah mendidik aku untuk menjadi kader-kader dakwah yang meneruskan perjalanan dakwah yang tiada hentinya ini, bagaimanapun caranya, aku harus menjadi seorang yang tak pongah mengangkat dagu, namun juga tak merunduk rendah diri, di sinilah anak-anak singa, lepas dari kandang sendiri, namun mengaum di puncak-puncak tertinggi. Berkelana di dataran rendah, pada samudera bergelombang, kami siap menebar kebaikan, kami penerus jalan dakwah masa kini. Abi pernah berkata, memenuhi hak Allah itu bukan berarti mengabaikan hak kalian anakku, sebaliknya jika abi penuhi hak Allah, itu sebenarnya sudah mencangkup hak kalian, sebab abi yakin kalian punya hak menjadi penghuni surga yang bertingkat-tingkat. Aku tersenyum tanda megerti. Saat ini aku bertemu dengan seseorang yang menurutku bisa membantuku dalam misi dakwah, bersama dengan Maharani, Ashiqa, Putra dan Fawwaz kami menjadi teman yang mempunyai sebuah cita cita yang sama menegakkan yang hak dan memberantas kebatilan, aku memilih mereka karena sebuah nasihat dari abi "Sarah kalo mau nyari temen, cari temanlah yang bukan menemani Sarah hanya di dunia tapi sampai di akhirat, yang bisa mewujudkan cita cita Sarah untuk melanjutkan perjalanan dakwah saat ini" nasihat abi selalu ku lakukan, sebagai acuan untuk melaksanakan misi besar dakwah ini, dan aku percayaberteman dengan Maharani sebagai sosok yang pemberani dalam menyampaikan mana yang buruk mana yang benar akan memepermudah merealisasikan misiku, dengan Ashiqa yang bebalut cadar beserta akhlaq yang lemah lembut dengan kata kata yang menyentuh hati, aku yakin ia akan menjadi teman surgaku, dengan mengenal sosok Fawwaz yang tegas, yang memiliki ilmu yang luas dalam tsaqofah Islamiyah, aku yakin disaat ia berbicara, orang akan percaya dengan apa yang dikatakan nya, dengan mengenal Putra, aku bisa belajar bagaimana bersikap mengatur waktu dengan sebaik mungkin dan dengan kemampuan Putra dalam menulis, tulisan yang mampu mengajak orang lain ke jalan yang benar. Bermodal nasihat abi saat kecil aku berani memulai perjalan dakwah bersama keempat temanku. Kami bergabung tapi tidak melupakan batasan kami sebagai muslimah, mereka dengan tugasnya berdakwah dengan teman-temanya, dan kami bertugas dengan teman perempuanku. Abi terimakasih untuk semua nasihat sedari kecil tentang perjalanan dakwah yang tidak mungkin aku sendiri yang melakukan nya. Aku bangga memiliki sesosok abi.
Saat ini abi masih seperti dulu, masih sibuk dengan urusan dakwahnya, tapi tak luput memberi pengajaran dakwah untukku, aku sekarang rutin ikut abi berdakwah, pergi ke pelosok desa untuk menyebarkan suatu kebaikan, sampai suatu hari aku dan umi harus merelakan abi memberi sebagian porsi waktunya untuk berdakwah untuk negeri ini, saat itu abi terpilih menduduki posisi anggota DPR dalam pemerintahan, saat itu resmi waktu abi akan berkurang untuk aku, maupun masih ada umi yang masih menemani aku saat ini, aku ikhlas abi menerima jalan dakwah dalam ranah pemerintahan. Pernah suatu hari ada seorang ibu yang menghampiriku dan berkata "abi dan umi mu adalah sosok yang luar biasa, nak, mereka rela keluar dari zona nyaman, abi dan umi mu tidak egois memikirkan maslahat keluarganya sendiri, mereka menjual diri, waktu, tenaga harta bahkan waktu bersama mu kan nak?”, aku mengangguk ”aku mengerti di saat teman-temanmu berlibur bersama orangtuanya masing-masing sedangkan kau harus ikut umi abi ke pelosok desa untuk ikut dalam kegiatan dakwahnya, aku salut terhadapmu. Sejak kecil sudah di ajarkan apa arti dakwah, maka aku berharap pada mu,lanjutkan lah perjuangan dakwah abi dan umimu, mereka butuh penerus perjuangan dakwah ini, aku takut negeri ini tak ada penegak kebenaran kedepannya” ibu itu tersenyum tulus seakan ada harapan besar untuk aku melanjutkan jejak umi dan abi “InsyaAllah doakan kami sekeluarga sehat selalau agar bisa menegakan kebenaran”, dari situ aku tersadar selama ini kesepianku, waktu liburanku yang tidak seperti anak lainya, ternyata lebih berharga, karena dengan pengalaman itu aku bisa melanjutkan perjalan dakwah ini.